RESUME MATERI SEKOLAH KADERISASI DAY 1

Image

Session I

Speaker: Septian Bayu Anggara, S. T.

Alumni Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2008, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Mantan Menko Eksternal BEM KMFT UGM 2011

Member Aktif di KEM Tempo Institute, Indonesian Changemakers, KAMMI UGM, BaktiNusa Dompet Dhuafa

Pergerakan (Movement)

            Bermula dari penjelasan tentang persentase jumlah penduduk Indonesia yang menjadi mahasiswa, mas Bayu, memulai Training-nya, “Tahukah kalian berapa jumlah penduduk Indonesia?” Tanya mas Bayu. Peserta banyak yang mengira-ngira jumlah itu, ada yang menyebut 275juta, 255juta, dlsb. Mas Bayu menjawab, “Ada 237juta jumlah penduduk Indonesia. Tahukah kalian berapa persen jumlah mahasiswa dari total penduduk itu?” “2%; 2,5%; 14%.” Sahut para peserta. “Ya, benar, hanya ada sekitar 2% mahasiswa seluruh Indonesia dari seluruh penduduk Indonesia. Apakah kalian tahu esensi apa dibalik jumlah tersebut?” “Indonesia belum sejahtera, banyak pengangguran (krik).” Beberapa peserta menjawab. “Ada sisa 98% yang menjadi tanggung jawab kalian, karena kalian adalah kompetitor peserta SNMPTN yang gagal merasakan bangku kuliah, dan kalian di biayai negara dari uang rakyat. Ingat itu!” Mas Bayu pun menjelaskan.

“Kalian jika universitas ini hanya belajar, maen game, di kosan, dan begitu seterusnya, maka kalian masih disebut siswa. Ya, hanya seorang siswa yang per-title mahasiswa. Padahal imbuhan maha- pada kata siswa berarti besar. Besar apanya? Besar peranannya! Oke, sekarang ada yang tau apa peranan mahasiswa sebenarnya?” Tanya mas Bayu. Peserta tampak bingung memikirkan pertanyaan ini. Lalu beliau menjelaskan, “Mahasiswa itu mmempunyai 3(tiga), ya, tiga peran utama, yakni:

  1.  Agent of Change
  2. Social Control
  3. Iron Stock.

Kalian pasti sudah mengetahui semua peran diatas, cuma masih berat hati aja dalam menjalankannya. Oke sekarang aku akan menjelaskan arti dari masing-masing pengertian diatas. Agent of Change merupakan upaya mahasiswa dalam memberikan sumbangsihnya berupa inovasi dan perubahan. Buktinya pada masa Orde Baru, mahasiswa berhasil menurunkan Rezim Suharto dan memulai Orde Reformasi yang baru. Kedua adalah Social Control, apabila dalam suatu kawasan yang masyarakatnya sedang dalam konflik atau dalam gunjang-ganjing persoalan baik intern atau ekstern, dan pada sa’at itu pula mahasiswa terjun langsung dalam kawasan tersebut, secara naluriah, mahasiswa yang notabene memiliki cara pandang objektif dan idealis realistis lebih mudah menyelesaikan suatu konflik daripada masyarakat intern itu sendiri yang mungkin diselimuti ego subjektif masing-masing. Dan terakhir Iron Stock, menggantikan grasi yang telah uzur. Selanjutnya sikap kita dalam memupuk ketika peran tersebut adalah memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya.”

Selanjutnya beliau memasuki inti dari seminar ini, yakni pergerakan/movement yang memang sangat identik dengan citra BEM J. Beliau memulainya dengan bertanya, “Ada yang tau apa sih pergerakan?” Berbagai argumen tentang istilah itu dimunculkan, semua benar tapi belum tepat. Beliau menjawab, “Pergerakan adalah memperjuangkan apa yang kita bawa. Bisa berupa ide, konsepsi, argumen, dlsb.” Beliau juga mencontohkan berbagai macam pergerakan yang pernah ada contoh kecilnya seperti Tolak UKT, isu yang masih hangat di BEM KM UGM. Ada lagi isu yang sangat frontal saya kira yakni pergerakan pahlawan-pahlawan di Indonesia yang beliau anggap tidak pantas disebut/dikategorikan sebagai pahlawan. Ambillah contoh R.A. Kartini, mengapa sosok pahlawan satu ini harus diistimewakan hingga memiliki hari dan lagu khusus, padahal perannya di dalam perjuangan melawan penjajah masih dipertanyakan. Ada yang mengatakan beliau(R.A. Kartini) hanya berkirim surat yang berisi simpati terhadap rakyat-rakyat kecil dan dibaca serta dibukukan. Pasti ini ada kaitannya dengan hubungan kedekatannya dengan pihak Belanda.

Mas Bayu melanjutkan pidatonya dengan menyangkutpautkan dengan sejarah-sejarah yang memang salah dalam penyampaian kebenarannya. Kita sebenarnya hanya dibohongi oleh penguasa jaman dahulu yang dengan bebasnya membuat sejarah dan memanipulasi apa yang sebenarnya terjadi demi kepentingan kelompok mereka. Nah, pesan dari cerita tentang sejarah yang sangat panjang yang telah disampaikan beliau adalah membangun budaya kritis, utamanya dalam berfikir dan bertindak. Pergerakan adalah contoh kekritisan dari sebuah ideologi. Beliau menutup pidatonya dengan memberikan sebuah quote, “Seorang terpelajar sudahlah adil walaupun sejak dalam pikiran hingga perbuatan.”

Session II

Speaker: Mohammad Faza Rosyada

Mahasiswa Teknik Fisika angkatan 2010, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ketua BEM KMFT UGM 2013, “Inisiatif Membumi”

Pergerakan (Movement)

 

            Topik memang sama dengan topik sebelumnya, namun banyak hal-hal disampaikan dari segi pandang beda. Tetapi memiliki esensi yang sama pula. Lain halnya dengan pembicara I, mas Faza memulai pidatonya dengan sejarah dibentuknya pergerakan akbar mahasiswa. Jadi, pada saat orde baru, banyak aktivitas-aktivitas pergerakan dibatasi ruang lingkupnya, jika memang ketahuan ada sekelompok mahasiswa yang berkumpul dan membicarakan “sesuatu” tentang negara ataupun pemerintahan, maka tidak segan-segan pemerintah langsung membubarkan dan mengasingkan para pelakunya. Hingga pada suatu momen dibentuklah Dewan Mahasiswa, bentuk perkumpulan mahasiswa dari Jong Java, Jong Sumatra, Jong Sulawesi dll yang memiliki satu visi yaitu mengurangi keabsolutan kekuasaan pemerintah Rezim Suharto. Dari sini sangat panjang sekali bagaimana perkembangan organisasi itu, hingga pada akhirnya mampu menurunkan sebuah Rezim pada tahun 1998. Apapun tindakan yang dilakukan oleh Rezim tersebut untuk mengekang pergerakan tidak mampu lagi diupayakan, mereka lemah dan memang batas waktu mereka telah tiba. Momentum itu merupakan pencapaian terbesar dalam sejarah pergerakan mahasiswa. Dan dari situ pula muncul organisasi-organisasi pergerakan yang dibentuk oleh mahasiswa yang jiwa reformasinya masih membara, contohnya saja BEN KMFT UGM terna dibentuk pada tahun 1999, benar-benar melambangkan sebuah gebrakan yang sporadis.

Kita dapat menganalisis bahwa cita-cita luhur BEM ketika dibentuk saat itu adalah melakukan pergerakan yang lebih dari pencapaian 1998. Ketika benar-benar mahasiswa melakukan peran pentingnya secara nyata. Dimana peran tersebut telah dijelaskan oleh pembicara sebelumnya. Nah, akhirnya beliau menjelaskan tentang fungsi BEM itu sendiri apa sih? Jadi mas Faza menjelaskan fungsi BEM itu ada 4(empat), yakni

  1. Aspirasi
  2. Advokasi
  3. Katalis
  4. Inisiator

Itulah tujuan utama BEM dibentuk, dan ada salah satu fungsi yang beliau jelaskan lebih, yakni advokasi. Advokasi merupakan agen dalam mendampingi, mengkaji, dan membela pihak-pihak minoritas yang merasa hak-haknya telah terambil oleh hak yang lebih besar milik orang lain.

Selanjutnya beliau memaparkan departemen-departemen dan biro-biro yang ada di BEM, namun sebelumnya beliau bertanya apa sih bedanya Biro dengan Departemen? Salah satu dari kami menjawab, “Biro: Bertanggung jawab langsung kepada ketua BEM, sedangkan Departemen: Bertanggung jawab kepada Menko Internal. Selain itu kekhusun Biro adalah bisa melakukan intervensi antardepartemen guna melakukan tugas sesuai dengan poker ketua BEM.” Di BEM KMFT UGM sendiri strukturnya terdapat 7 departemen dan 2 biro, yakni

  1. Departemen Advokasi
  2. Technopreneurship Department
  3. Departemen Hubungan Masyarakat
  4. Departemen Kajian Strategis
  5. Depatemen Media Informasi Teknik
  6. Departemen Olahraga, Apresiasi dan Seni
  7. Departemen Sosial Masyarakat
  8. Biro Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa
  9. Biro Kerumahtanggaan

Mas Faza juga menjelaskan tentang syarat-syarat anggota BEM itu harus memiliki karakter khusus, idealisme tinggi. Agar jika ada orang yang mengatakan pergerakan seperti orasi adalah gak guna, kita langsung dapat menegurnya dengan argumen yang kuat. Beliau juga memberikan quote yang beliau peroleh dari seniornya dulu, yakni “Jangan mencibir aksi, jika kamu belum pernah ikut aksi!” Dari sini tergambar jelas bahwa hanya orang-orang yang tidak mengerti yang meneriakkan bahwa orasi itu gak guna. Mas Faza menganalogikan quote diatas sebagai berikut, “Apakah mungkin seseorang tau rasa jeruk, jika orang tersebut tidak pernah makan jeruk?” Syarat berikutnya yang harus dipunyai seorang anggota BEM adalah karakter, idealisme dan semangat untuk berkontribusi. Beliau juga menyuguhkan fakta bahwa ketika seorang mahasiswa melakukan pasaran, besar kontribusinya berkurang sebesar 50%. Juga beliau berpesan jangan berkontribusi jika hanya ingin mendapat feedback berupa pujian dari orang lain. Anggaplah pujian itu sebagai bonus, namun tujuan utamanya adalah

  1. Hanya mengharap pada Allah
  2. Niatkanlah hanya untuk membuat Indonesia Lebih Baik.

Kesimpulan:

  1. Saya merasa jika belajar hanyalah sebagai sampingan saja, karena dibalik tittle mahasiswa yang saya emban terdapat tanggung jawab mencerdaskan bangsa dan membangun bangsa ini semakin baik.
  2. Mindset saya sedikit berubah tentang mahasiswa di BEM itu hanya bisa berorasi, ternyata mereka benar-benar memiliki kepekaan tinggi terhadap penyelewengan maupun kesalahan sekecil apapun. Salut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s