Aku Untuk Indonesia yang Lebih Baik

Gambar“Saya selalu percaya bahwa bangsa Indonesia punya dua cara untuk menjadikan Indonesia sesuai dengan yang diharapkan:
1. Menuntut perubahan dan
2. Menciptakan perubahan

The land of Hope and Dream…. Indonesia 🙂 Nasional.is.me”
-Pandji Pragiwaksono

Aku mengenal kata Indonesia mungkin sejak aku pertama mengenal kata, dapat dibilang kata keempat yang aku kenal setelah Ibu, Ayah, dan Allah. Namun apakah aku sudah benar-benar mengetahui arti sesungguhnya Indonesia bagi kehidupanku? Yang aku ketahui hanya aku lahir di akhir era Orde Baru, era dimana pembangunan Indonesia mulai merangkak dan berlari, namun asal mula praktik korupsi muncul juga terlahir.

Kalau boleh dibilang seakan masa pertumbuhanku seiring dengan masa pertumbuhan bangsa ini, walaupun cuma 2 masa sih yang aku lewatin. Setidaknya aku dapat membedakan bagaimana kondisi Orde Baru dan Reformasi berjalan. Dari progress setiap waktu Indonesia mengalami siklus pertumbuhan yang fluktuatif, apalagi saat ini, dimana batas antarkoridor sudah sulit dibedakan. Salah bisa menjadi benar, ataupun sebaliknya. Rasisme, Pelanggaran HAM, Kasus Paranoid(Eyang Subur), Hilangnya Nasionalisasi(Barefood Friend) yang ada di Jogja, dan masalah-masalah klasik lain. Aku sempat berfikir apakah diversity suku bangsa menyebabkan chaos antarsuku? Bukankah seharusnya kita mempunyai satu kesamaan yang merupakan cita-cita pendiri bangsa ini, yaitu membangun bangsa. Aku juga sempat berfikir apakah segala macam masalah diatas adalah sisa-sisa penjajahan yang terlalu lama yang menyebabkan karakter bangsa ini bobrok sehingga berusaha saling menduduki posisi teratas?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat kita sebenarnya semakin cerdas, dan pandai. But every strenght always has responsibility – Peter Parker. Bentuk dari tanggung jawab itu adalah penumbuhan karakter yang santun. Itu kunci dari semua peradaban/negara yang maju maupun berkembang. Ingat di sini berkembang untuk menjadi maju, bukan berkembang menuju kejahiliyahan(tidak menyebut Indonesia). Nah, karena setiap orang yang lahir itu membawa “personality”, kepribadian. Dan kepribadian itu pasti ada kelemahan dan kelebihan masing-masing maka dari itu perlu dibentuk sebuah karakter. Kekurangan kepribadian kita have do be covered by a good characters. Misal kita memiliki kepribadian kasar, maka kita dapat menutupinya dengan sebuah kebiasaan positif yang disebut karakter. Karakter ini tidak bisa diwariskan, dibeli, ditawar, tapi harus ditumbuhkan serta dikembangkan secara continous. Proses ini harus dilakukan secara sadar hari demi hari dan tidak mungkin bisa secara instan.

Aku memiliki pandangan bahwa untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik harus dilakukan dari akarnya dahulu, yakni karakter. Dan untuk menjadikan Indonesia berkarakter salah satunya adalah lewat pendidikan. Selanjutnya saya akan mengangkat berbagai isu tentang pendidikan yang menjadi masalah dalam pembentukan karakter bangsa dewasa ini. Pertama, kita lihat contoh terdekatnya yakni ada di daerah Jogja sendiri banyak anak-anak yang terlantar dan mengemis di jalan-jalan raya, dimana mereka seharusnya mengenyam pendidikan wajib selama 12 bulan. Dari segi sosial mereka telah melakukan tugas mereka sebagai anak yang baik yakni membantu orang tua, namun dari segi hukum hal ini tidak dibenarkan karena melanggar hak anak dalam memperoleh pendidikan dan kebahagiaan. Di lain pihak kita sebagai orang umum ingin memberi bantuan dalam bentuk uang ketika mereka meminta di jalan juga tidak dibenarkan hukum, karena seharusnya jika kita ingin memberi bantuan langsung saja ke Panti Asuhan ataupun Sekolah Luar Biasa.Tapi jika dilihat dari segi humanis kita Asian melihat mereka meminta-minta pagi hingga malam demi sesuap nasi, entah uang mereka nantinya untuk bos preman ataupun untuk makan mereka sehari-hari.

Kedua, isu-isu yang paling hangat adalah ketidakmampuan pemerintah untuk memfasilitasi murid-murid yang akan menjalani Ujian Nasional yang bagi mereka sangat menentukan masa depan mereka. Keterlambatan percatakan dan pengiriman soal ujian yang berdampak penundaan Ujian Nasional pasti secara tidak langsung memengaruhi kondisi psikis dari murid-murid yang dijadwalkan siap. Hal ini selain menunjukkan improfessionalitas pemerintah pusat, juga menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan Indonesia yang belum juga terselesaikan. Wilayah-wilayah diluar Jawa jauh tertinggal jika dibandingkan Jawa. Padahal daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain misal Kalimantan akan memicu pelecahan atau perendahan martabat karena negara kita dianggap masih ketinggalan jauh dengan negara mereka. Apakah kita benar-benar berniat membangun Indonesia? Atau mungkin kita salah bahwa Indonesia yang kita maksud adalah Jawa saja? Semoga niat kita Menag benar dari awal.

Solusi untuk permasalahan pendidikan berkarakter diatas adalah:

  1.  Memberikan contoh kegiatan positif agar dapat menginduksi orang lain untuk berkarakter positif.
  2. Dibentuk desa-desa berkarakter dimana kepala desa maupun staf-stafnya adalah seorang yang berkarakter tinggi dan dapat mempengaruhi orang lain.
  3. Sebelum dibentuk desa itu diciptakan dulu sekolah berkarakter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s