Repath Fritz! – with Fritz at Kosan D. Goeritno Atmohardjo

View on Path

Advertisements

Mengatasi Pikiran “Kabur” dalam Sholat

 

 

Ketika Anda sedang sholat, setan akan datang untuk mengganggu perhatian Anda. Akan tetapi, pada saat Anda tidak sadar bahwa perhatian Anda telah dialihkan pada yang lain. Maksudnya, setan melancarkan tipu dayanya, lalu pikiran Anda akan dibawa dan Anda pun terlena di dalamnya. Jadi, apa yang diambil dari diri Anda bukanlah sesuatu yang terlintas dalam benak Anda, melainkan jawaban dari apa yang terlintas dalam hati dan pikiran Anda.

Sesungguhnya sholat merupakan detik-detik yang lebih mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena itu, setan ingin merusak kemesraan yang terjalin antara hamba dan Tuhannya. Lalu, ia pun menghampiri Anda dengan membawa bisikan tentang sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam hati sekalipun. Sungguh, manusia akan merasakan kesengsaraan jika ia terus mengikuti bisikan setan.

Dikisahkan, ada seseorang datang kepada Abu Hanifah menanyakan tentang hartanya yang disimpan di dalam tanah, tetapi ia lupa tempatnya. Ia bertanya kepada Abu Hanifah, “Dimana ia mendapatkan harta itu?” Abu Hanifah menjawab, “Aku tidak tahu, tetapi aku bisa memikirkannya untukmu. Apabila malam tiba, lakukanlah sholat tahajud sepanjang malam.” Lalu, orang itupun pergi meninggalkannya. Setelah sholat Fajar, tiba-tiba ia datang kepada Abu Hanifah dan berkata kepadanya, “Wahai Imam, aku telah menemukan harta itu.” “Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Abu Hanifah. Lalu ia menjawab, “Aku telah menjalankan nasihatmu, dan ketika sedang sholat, aku teringat posisi harta itu.” Maka Abu Hanifah berkata, “Demi Allah, kamu sudah tahu bahwa setan tidak akan pernah membiarkanmu menyempurnakan munajatmu kepada Tuhan.”

Dengan demikian, setan itu datang kepada orang tersebut sambil meniupkan bisikan tentang hartanya yang hilang. Orang itupun segera mencarinya sebagai bentuk ketaatan kepada setan sampai ia tiba di tempat harta tersebut. Begitulah yang dialami setiap orang yang sedang sholat agar tidak bermunajat kapada Tuhannya.

Jalan keluar dari bisikan setan itu sebenarnya mudah. Jika ada orang beriman yang datangi setan, katakanlah, “A’udzu Billahi Min Al-Syaithanirrajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).” Doamu itu pasti akan menghalangi gangguan dan bisikan setan kepadamu. Firman Allah Swt.,

Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat [41]: 36)

Sumber: Mutawalli, Al-Sya’rawi. 2010. Tirulah Sholat Nabi. Bandung: Mizan Media Utama.

RESUME MATERI SEKOLAH KADERISASI DAY II

Image

Session I

Speaker: Fanny Purwati

Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada 2009

Member Aktif di Forum Lingkar Pena Yogyakarta

Menulis

            Materi ini memang sering dikupas dan dibahas, namun masih saja ada masalah lain dimana motivasi untuk menulis itu sendiri belum tumbuh dan mengakar kuat. Penjelasan dari mbak Fanny sedikit merubah cara pandang saya dalam menulis. Beliau awalnya menampilkan sebuah quote. “Spoken Words Fly Away, Written Words Remains.

Menurut Beliau, menulis itu MuSuh! MUdah, sekaligus SUsaH. Apa sih kemudahannya? Pertama murah, kedua bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Apakah bener susah? Iya, karena perlu proses, dan butuh waktu.

Sekarang apasih manfaat menulis? Mbak Fanny menjelaskan

  1. Write your knowledge

“Ilmu bagaikan sebuah binatang buruan, dan penalah yang mengikatnya.”

       2.  Share The informations

Dapat dalam bentuk berita, media, dan reportase.

       3.  Shout it out by writing

Tunjukkan aksi kalian, just write and publish!

Dapat berupa Opini, Surat Pembaca.

       4.  Make them more shareable

Mengapa tulisan itu lebih tajam pengaruhnya dibanding orasi oral? Karena interpretasi setiap orang kurang lebih sama jika tulisan kita memang jelas dan persuatif.

Ada dua jenis tulisan yang dipaparkan oleh mbak Fanny, yaitu tulisan fiksi dan non-fiksi. Fiksi terdiri dari cerpen, novel, puisi, komik, dll. Dan yang non-fiksi terdiri dari opini, reportase, esai ilmiah, skripsi, dll.Kita dapat memulainya dari apa yang kita sukai.

Setelah kita memiliki minat dan niat untuk memulai menulis, kadang-kadang kita fetch up di tengah penulisan, apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Inilah tantangan dalam penulisan

  1. Idea, these are the challenge!

Kunci untuk mematahkan tantangan ini adalah menggunakan dan melatih imajinasi kita. Karena untuk sebuah ide ini dapat diambil dari pengalaman atau isu terkini.

       2. Bikin Mind Mapping, untuk membuat tulisan kita terperinci dan memiliki keterkaitan antaride yang sudah terkumpul, maka  pemetaan pikiran inilah cara paling efektif untuk mencegah fetch up tadi. Selain itu metode sebab-akibat dalam membuat mind mapping adalah the best way untuk memperoleh tulisan yang mengalir.

3. Tentukan judul sesuai dengan jenis tulisan. Ya, tulah kalau anak muda jaman sekarang suka tulisan-tulisan yang anti-mainstream, jadi buatlah judul seunik mungkin, agar bisa meningkatkan dan memantikkan minat baca.

4. Diksi. Ini nih yang bisa dibilang very important and essential, karena banyak orang yang menggunakan pilihan bahasa yang kurang tepat dalam mengekspresikan tulisannya, sehingga maksud utamanya hanya tersampaikan sebagian. Solusinya adalah memperbanyak perbendaharaan kata kita melalui membaca dan membaca.

Make it simple with 5W + 1H!

Be careful!

EYD.

Istilah Asing harus dicetak miring, dan sebisa mungkin yang familiar.

Imbuhan vs kata depan.

Tanda Baca.

Oke, sekarang apa yang sebaiknya kita perjuangkan?

Just Write!

  1. Rajin Berlatih
  2. Publikasikan Tulisan
  3. Ikut Lomba Menulis
  4. BACA!

RESUME MATERI SEKOLAH KADERISASI DAY 1

Image

Session I

Speaker: Septian Bayu Anggara, S. T.

Alumni Mahasiswa Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2008, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Mantan Menko Eksternal BEM KMFT UGM 2011

Member Aktif di KEM Tempo Institute, Indonesian Changemakers, KAMMI UGM, BaktiNusa Dompet Dhuafa

Pergerakan (Movement)

            Bermula dari penjelasan tentang persentase jumlah penduduk Indonesia yang menjadi mahasiswa, mas Bayu, memulai Training-nya, “Tahukah kalian berapa jumlah penduduk Indonesia?” Tanya mas Bayu. Peserta banyak yang mengira-ngira jumlah itu, ada yang menyebut 275juta, 255juta, dlsb. Mas Bayu menjawab, “Ada 237juta jumlah penduduk Indonesia. Tahukah kalian berapa persen jumlah mahasiswa dari total penduduk itu?” “2%; 2,5%; 14%.” Sahut para peserta. “Ya, benar, hanya ada sekitar 2% mahasiswa seluruh Indonesia dari seluruh penduduk Indonesia. Apakah kalian tahu esensi apa dibalik jumlah tersebut?” “Indonesia belum sejahtera, banyak pengangguran (krik).” Beberapa peserta menjawab. “Ada sisa 98% yang menjadi tanggung jawab kalian, karena kalian adalah kompetitor peserta SNMPTN yang gagal merasakan bangku kuliah, dan kalian di biayai negara dari uang rakyat. Ingat itu!” Mas Bayu pun menjelaskan.

“Kalian jika universitas ini hanya belajar, maen game, di kosan, dan begitu seterusnya, maka kalian masih disebut siswa. Ya, hanya seorang siswa yang per-title mahasiswa. Padahal imbuhan maha- pada kata siswa berarti besar. Besar apanya? Besar peranannya! Oke, sekarang ada yang tau apa peranan mahasiswa sebenarnya?” Tanya mas Bayu. Peserta tampak bingung memikirkan pertanyaan ini. Lalu beliau menjelaskan, “Mahasiswa itu mmempunyai 3(tiga), ya, tiga peran utama, yakni:

  1.  Agent of Change
  2. Social Control
  3. Iron Stock.

Kalian pasti sudah mengetahui semua peran diatas, cuma masih berat hati aja dalam menjalankannya. Oke sekarang aku akan menjelaskan arti dari masing-masing pengertian diatas. Agent of Change merupakan upaya mahasiswa dalam memberikan sumbangsihnya berupa inovasi dan perubahan. Buktinya pada masa Orde Baru, mahasiswa berhasil menurunkan Rezim Suharto dan memulai Orde Reformasi yang baru. Kedua adalah Social Control, apabila dalam suatu kawasan yang masyarakatnya sedang dalam konflik atau dalam gunjang-ganjing persoalan baik intern atau ekstern, dan pada sa’at itu pula mahasiswa terjun langsung dalam kawasan tersebut, secara naluriah, mahasiswa yang notabene memiliki cara pandang objektif dan idealis realistis lebih mudah menyelesaikan suatu konflik daripada masyarakat intern itu sendiri yang mungkin diselimuti ego subjektif masing-masing. Dan terakhir Iron Stock, menggantikan grasi yang telah uzur. Selanjutnya sikap kita dalam memupuk ketika peran tersebut adalah memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya.”

Selanjutnya beliau memasuki inti dari seminar ini, yakni pergerakan/movement yang memang sangat identik dengan citra BEM J. Beliau memulainya dengan bertanya, “Ada yang tau apa sih pergerakan?” Berbagai argumen tentang istilah itu dimunculkan, semua benar tapi belum tepat. Beliau menjawab, “Pergerakan adalah memperjuangkan apa yang kita bawa. Bisa berupa ide, konsepsi, argumen, dlsb.” Beliau juga mencontohkan berbagai macam pergerakan yang pernah ada contoh kecilnya seperti Tolak UKT, isu yang masih hangat di BEM KM UGM. Ada lagi isu yang sangat frontal saya kira yakni pergerakan pahlawan-pahlawan di Indonesia yang beliau anggap tidak pantas disebut/dikategorikan sebagai pahlawan. Ambillah contoh R.A. Kartini, mengapa sosok pahlawan satu ini harus diistimewakan hingga memiliki hari dan lagu khusus, padahal perannya di dalam perjuangan melawan penjajah masih dipertanyakan. Ada yang mengatakan beliau(R.A. Kartini) hanya berkirim surat yang berisi simpati terhadap rakyat-rakyat kecil dan dibaca serta dibukukan. Pasti ini ada kaitannya dengan hubungan kedekatannya dengan pihak Belanda.

Mas Bayu melanjutkan pidatonya dengan menyangkutpautkan dengan sejarah-sejarah yang memang salah dalam penyampaian kebenarannya. Kita sebenarnya hanya dibohongi oleh penguasa jaman dahulu yang dengan bebasnya membuat sejarah dan memanipulasi apa yang sebenarnya terjadi demi kepentingan kelompok mereka. Nah, pesan dari cerita tentang sejarah yang sangat panjang yang telah disampaikan beliau adalah membangun budaya kritis, utamanya dalam berfikir dan bertindak. Pergerakan adalah contoh kekritisan dari sebuah ideologi. Beliau menutup pidatonya dengan memberikan sebuah quote, “Seorang terpelajar sudahlah adil walaupun sejak dalam pikiran hingga perbuatan.”

Session II

Speaker: Mohammad Faza Rosyada

Mahasiswa Teknik Fisika angkatan 2010, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Ketua BEM KMFT UGM 2013, “Inisiatif Membumi”

Pergerakan (Movement)

 

            Topik memang sama dengan topik sebelumnya, namun banyak hal-hal disampaikan dari segi pandang beda. Tetapi memiliki esensi yang sama pula. Lain halnya dengan pembicara I, mas Faza memulai pidatonya dengan sejarah dibentuknya pergerakan akbar mahasiswa. Jadi, pada saat orde baru, banyak aktivitas-aktivitas pergerakan dibatasi ruang lingkupnya, jika memang ketahuan ada sekelompok mahasiswa yang berkumpul dan membicarakan “sesuatu” tentang negara ataupun pemerintahan, maka tidak segan-segan pemerintah langsung membubarkan dan mengasingkan para pelakunya. Hingga pada suatu momen dibentuklah Dewan Mahasiswa, bentuk perkumpulan mahasiswa dari Jong Java, Jong Sumatra, Jong Sulawesi dll yang memiliki satu visi yaitu mengurangi keabsolutan kekuasaan pemerintah Rezim Suharto. Dari sini sangat panjang sekali bagaimana perkembangan organisasi itu, hingga pada akhirnya mampu menurunkan sebuah Rezim pada tahun 1998. Apapun tindakan yang dilakukan oleh Rezim tersebut untuk mengekang pergerakan tidak mampu lagi diupayakan, mereka lemah dan memang batas waktu mereka telah tiba. Momentum itu merupakan pencapaian terbesar dalam sejarah pergerakan mahasiswa. Dan dari situ pula muncul organisasi-organisasi pergerakan yang dibentuk oleh mahasiswa yang jiwa reformasinya masih membara, contohnya saja BEN KMFT UGM terna dibentuk pada tahun 1999, benar-benar melambangkan sebuah gebrakan yang sporadis.

Kita dapat menganalisis bahwa cita-cita luhur BEM ketika dibentuk saat itu adalah melakukan pergerakan yang lebih dari pencapaian 1998. Ketika benar-benar mahasiswa melakukan peran pentingnya secara nyata. Dimana peran tersebut telah dijelaskan oleh pembicara sebelumnya. Nah, akhirnya beliau menjelaskan tentang fungsi BEM itu sendiri apa sih? Jadi mas Faza menjelaskan fungsi BEM itu ada 4(empat), yakni

  1. Aspirasi
  2. Advokasi
  3. Katalis
  4. Inisiator

Itulah tujuan utama BEM dibentuk, dan ada salah satu fungsi yang beliau jelaskan lebih, yakni advokasi. Advokasi merupakan agen dalam mendampingi, mengkaji, dan membela pihak-pihak minoritas yang merasa hak-haknya telah terambil oleh hak yang lebih besar milik orang lain.

Selanjutnya beliau memaparkan departemen-departemen dan biro-biro yang ada di BEM, namun sebelumnya beliau bertanya apa sih bedanya Biro dengan Departemen? Salah satu dari kami menjawab, “Biro: Bertanggung jawab langsung kepada ketua BEM, sedangkan Departemen: Bertanggung jawab kepada Menko Internal. Selain itu kekhusun Biro adalah bisa melakukan intervensi antardepartemen guna melakukan tugas sesuai dengan poker ketua BEM.” Di BEM KMFT UGM sendiri strukturnya terdapat 7 departemen dan 2 biro, yakni

  1. Departemen Advokasi
  2. Technopreneurship Department
  3. Departemen Hubungan Masyarakat
  4. Departemen Kajian Strategis
  5. Depatemen Media Informasi Teknik
  6. Departemen Olahraga, Apresiasi dan Seni
  7. Departemen Sosial Masyarakat
  8. Biro Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa
  9. Biro Kerumahtanggaan

Mas Faza juga menjelaskan tentang syarat-syarat anggota BEM itu harus memiliki karakter khusus, idealisme tinggi. Agar jika ada orang yang mengatakan pergerakan seperti orasi adalah gak guna, kita langsung dapat menegurnya dengan argumen yang kuat. Beliau juga memberikan quote yang beliau peroleh dari seniornya dulu, yakni “Jangan mencibir aksi, jika kamu belum pernah ikut aksi!” Dari sini tergambar jelas bahwa hanya orang-orang yang tidak mengerti yang meneriakkan bahwa orasi itu gak guna. Mas Faza menganalogikan quote diatas sebagai berikut, “Apakah mungkin seseorang tau rasa jeruk, jika orang tersebut tidak pernah makan jeruk?” Syarat berikutnya yang harus dipunyai seorang anggota BEM adalah karakter, idealisme dan semangat untuk berkontribusi. Beliau juga menyuguhkan fakta bahwa ketika seorang mahasiswa melakukan pasaran, besar kontribusinya berkurang sebesar 50%. Juga beliau berpesan jangan berkontribusi jika hanya ingin mendapat feedback berupa pujian dari orang lain. Anggaplah pujian itu sebagai bonus, namun tujuan utamanya adalah

  1. Hanya mengharap pada Allah
  2. Niatkanlah hanya untuk membuat Indonesia Lebih Baik.

Kesimpulan:

  1. Saya merasa jika belajar hanyalah sebagai sampingan saja, karena dibalik tittle mahasiswa yang saya emban terdapat tanggung jawab mencerdaskan bangsa dan membangun bangsa ini semakin baik.
  2. Mindset saya sedikit berubah tentang mahasiswa di BEM itu hanya bisa berorasi, ternyata mereka benar-benar memiliki kepekaan tinggi terhadap penyelewengan maupun kesalahan sekecil apapun. Salut!

Aku Untuk Indonesia yang Lebih Baik

Gambar“Saya selalu percaya bahwa bangsa Indonesia punya dua cara untuk menjadikan Indonesia sesuai dengan yang diharapkan:
1. Menuntut perubahan dan
2. Menciptakan perubahan

The land of Hope and Dream…. Indonesia 🙂 Nasional.is.me”
-Pandji Pragiwaksono

Aku mengenal kata Indonesia mungkin sejak aku pertama mengenal kata, dapat dibilang kata keempat yang aku kenal setelah Ibu, Ayah, dan Allah. Namun apakah aku sudah benar-benar mengetahui arti sesungguhnya Indonesia bagi kehidupanku? Yang aku ketahui hanya aku lahir di akhir era Orde Baru, era dimana pembangunan Indonesia mulai merangkak dan berlari, namun asal mula praktik korupsi muncul juga terlahir.

Kalau boleh dibilang seakan masa pertumbuhanku seiring dengan masa pertumbuhan bangsa ini, walaupun cuma 2 masa sih yang aku lewatin. Setidaknya aku dapat membedakan bagaimana kondisi Orde Baru dan Reformasi berjalan. Dari progress setiap waktu Indonesia mengalami siklus pertumbuhan yang fluktuatif, apalagi saat ini, dimana batas antarkoridor sudah sulit dibedakan. Salah bisa menjadi benar, ataupun sebaliknya. Rasisme, Pelanggaran HAM, Kasus Paranoid(Eyang Subur), Hilangnya Nasionalisasi(Barefood Friend) yang ada di Jogja, dan masalah-masalah klasik lain. Aku sempat berfikir apakah diversity suku bangsa menyebabkan chaos antarsuku? Bukankah seharusnya kita mempunyai satu kesamaan yang merupakan cita-cita pendiri bangsa ini, yaitu membangun bangsa. Aku juga sempat berfikir apakah segala macam masalah diatas adalah sisa-sisa penjajahan yang terlalu lama yang menyebabkan karakter bangsa ini bobrok sehingga berusaha saling menduduki posisi teratas?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat kita sebenarnya semakin cerdas, dan pandai. But every strenght always has responsibility – Peter Parker. Bentuk dari tanggung jawab itu adalah penumbuhan karakter yang santun. Itu kunci dari semua peradaban/negara yang maju maupun berkembang. Ingat di sini berkembang untuk menjadi maju, bukan berkembang menuju kejahiliyahan(tidak menyebut Indonesia). Nah, karena setiap orang yang lahir itu membawa “personality”, kepribadian. Dan kepribadian itu pasti ada kelemahan dan kelebihan masing-masing maka dari itu perlu dibentuk sebuah karakter. Kekurangan kepribadian kita have do be covered by a good characters. Misal kita memiliki kepribadian kasar, maka kita dapat menutupinya dengan sebuah kebiasaan positif yang disebut karakter. Karakter ini tidak bisa diwariskan, dibeli, ditawar, tapi harus ditumbuhkan serta dikembangkan secara continous. Proses ini harus dilakukan secara sadar hari demi hari dan tidak mungkin bisa secara instan.

Aku memiliki pandangan bahwa untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik harus dilakukan dari akarnya dahulu, yakni karakter. Dan untuk menjadikan Indonesia berkarakter salah satunya adalah lewat pendidikan. Selanjutnya saya akan mengangkat berbagai isu tentang pendidikan yang menjadi masalah dalam pembentukan karakter bangsa dewasa ini. Pertama, kita lihat contoh terdekatnya yakni ada di daerah Jogja sendiri banyak anak-anak yang terlantar dan mengemis di jalan-jalan raya, dimana mereka seharusnya mengenyam pendidikan wajib selama 12 bulan. Dari segi sosial mereka telah melakukan tugas mereka sebagai anak yang baik yakni membantu orang tua, namun dari segi hukum hal ini tidak dibenarkan karena melanggar hak anak dalam memperoleh pendidikan dan kebahagiaan. Di lain pihak kita sebagai orang umum ingin memberi bantuan dalam bentuk uang ketika mereka meminta di jalan juga tidak dibenarkan hukum, karena seharusnya jika kita ingin memberi bantuan langsung saja ke Panti Asuhan ataupun Sekolah Luar Biasa.Tapi jika dilihat dari segi humanis kita Asian melihat mereka meminta-minta pagi hingga malam demi sesuap nasi, entah uang mereka nantinya untuk bos preman ataupun untuk makan mereka sehari-hari.

Kedua, isu-isu yang paling hangat adalah ketidakmampuan pemerintah untuk memfasilitasi murid-murid yang akan menjalani Ujian Nasional yang bagi mereka sangat menentukan masa depan mereka. Keterlambatan percatakan dan pengiriman soal ujian yang berdampak penundaan Ujian Nasional pasti secara tidak langsung memengaruhi kondisi psikis dari murid-murid yang dijadwalkan siap. Hal ini selain menunjukkan improfessionalitas pemerintah pusat, juga menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan Indonesia yang belum juga terselesaikan. Wilayah-wilayah diluar Jawa jauh tertinggal jika dibandingkan Jawa. Padahal daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain misal Kalimantan akan memicu pelecahan atau perendahan martabat karena negara kita dianggap masih ketinggalan jauh dengan negara mereka. Apakah kita benar-benar berniat membangun Indonesia? Atau mungkin kita salah bahwa Indonesia yang kita maksud adalah Jawa saja? Semoga niat kita Menag benar dari awal.

Solusi untuk permasalahan pendidikan berkarakter diatas adalah:

  1.  Memberikan contoh kegiatan positif agar dapat menginduksi orang lain untuk berkarakter positif.
  2. Dibentuk desa-desa berkarakter dimana kepala desa maupun staf-stafnya adalah seorang yang berkarakter tinggi dan dapat mempengaruhi orang lain.
  3. Sebelum dibentuk desa itu diciptakan dulu sekolah berkarakter.

Mutiara Ilmu Pendirian yang Teguh

Abad ke-21 ini menuntut setiap orang menjadi pribadi yang harus memiliki target dan cita-cita untuk masa depannya. Dapat dibayangkan jika seseorang yang hanya berfikir “abis ini ngapain?” atau yang lebiih parah “gak ada kerjaan, tidur aja ah!”. Target menurut tempo pemenuhan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jangka pendek dan panjang. Biasaya orang yang hanya memiliki target jangka pendek terlalu bersantai dan ketika pekerjaan mereka selesai, mereka cenderung membuang waktu mereka. Aku sebut orang-orang seperti itu Time Waster.

Banyak orang-orang yang menganggap bahwa ikut banyak organisasi itu baik, menurutku itu tidak benar. Ada pepatah “Jika kamu ikut semuanya, maka kamu tidak ikut apa-apa.” Pengetahuan yang mendalam itu lebih baik daripada pengetahuan yang luas namun hanya pada surface-nya. Ada pepatah lain “No One knows everything, but everyone knows something”. Kedua pepatah tersebut menjelaskan bahwa akar-akar ilmu yang kita pelajari haruslah kuat untuk mencapai sebuah ilmu yang mendalam serta selalu belajarlah dari orang lain. Nah, setelah kita tahu bagaimana pentingnya sebuah target selanjutnya yang paling urgen adalah excute dari rencana awal. Oleh karena itu butuh sebuah pendirian yang teguh, agar Track kita tidak meleset jauh.

Berbicara tentang Teguh Pendirian, saya sendiri kadang rancu membedakannya dengan Keras Kepala. Hanya ada membran tipis yang memisahkan mereka. Jika kita salah melangkah, yang semula ingin memiliki pendirian yang teguh sekarang malah dijauhi teman-teman karena dianggap keras kepala.

Di dalam Islam sendiri Allah telah telah memerintahkan setiap hambanya untuk beristiqomah (Teguh Pendirian) dalam firmannya:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.(QS.Al Ahqaaf_13).

Sebenarnya Istiqamah memiliki arti yang lebih luas daripada hanya Teguh Pendirian. Arti Istiqamah sebenarnya adalah teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang saleh. Dapat kita analisis di sini bahwa kita tidak akan terjerumus ke arah sifat keras kepala jika kita berpegang pada sifat istiqamah karena dalam sifat itu kita tetap beramal saleh. Tokoh yang menjadi inspirasi saya adalah Ibnu Taimiyah, seorang yang menguasai fiqih, hadits, tafsir, ilmu ushul dan Hafid. Beliau juga dijuluki dengan Mujaddid yang berarti Pembaharu dalam pemikiran Islam.

Mutiara yang dapat diambil:

  1. Buat lah target jangka panjang dan pendek
  2. Mendalami ilmu adalah tahap awal sebelum mempelajari ilmu baru
  3. Belajarlah dari orang-orang disekitar kita
  4. Tugahlah dalam mencapai target yang kamu pasang sejak awal
  5. Istiqamah akan menjadi tingkatan yang lebih tinggi dari Teguh Pendirian